http://www.misuh.co.cc
KATEGORI
Selasa, 19 Juni 2012
Kegunaan Medis Cannabis
Sejarah penggunaan marijuana sebagai obat.
Cannabis pertama kali diketahui dapat digunakan untuk pengobatan yaitu dalam terapi pharmacopoeia di negeri Cina yang di sebut Pen Ts’ao. Pharmacopoeia adalah sebuah buku yang berisi daftar obat-obatan serta cara persiapan dan penggunaannya. Cannabis disebut sebagai “Superior Herb” oleh Kaisar Shen Nung (2737-2697 SM), yang diyakininya sangat manjur dan mujarab. Cannabis direkomendasikan sebagai pengobatan untuk berbagai penyakit umum. Sekitar periode yang sama di Mesir, ganja digunakan sebagai pengobatan untuk sakit mata. Ramuan ini digunakan di India dalam upacara budaya dan agama, dan dicatat dalam kitab suci teks Sansekerta sekitar 1.400 SM. Ganja dianggap sebagai ramuan kudus dan ditandai sebagai ” soother of grief ” atau ” the sky flyer,” dan “surga orang miskin.” Berabad-abad kemudian, sekitar 700 SM, orang-orang bangsa Asyur menggunakan ramuan yang mereka sebut Qunnabu yang digunakan sebagai dupa. Orang Yunani kuno menggunakan ganja sebagai obat untuk mengobati peradangan, sakit telinga, dan edema (pembengkakan bagian tubuh karena pengumpulan cairan). Tak lama setelah 500SM seorang sejarawan dan ahli geografi, Herodotus mencatat bahwa masyarakat Scythians menggunakan ganja untuk menghasilkan linen yang halus. Mereka juga menyebutnya sebagai rempah Cannabis dan menggunakannya dengan cara menghirup uapnya yang dihasilkan ketika dibakar. Pada tahun 100 SM bangsa Cina telah menggunakan ganja untuk membuat kertas.
Budidaya ganja serta penggunaannya bermigrasi dan bergerak ke berbagai pedagang dan pelancong. Pengetahuan mengenai nilai herbal ini menyebar ke seluruh Timur Tengah, Eropa Timur, dan Afrika. Sekitar tahun 100 sesudah masehi, Dioscorides, seorang ahli bedah di Legions Romawi di bawah Kaisar Nero, menamakan rempah ini dengan nama Cannabis sativa herbal dan tercatat penggunaannya untuk berbagai obat. Pada abad kedua, dokter dari negeri Cina yang bernama Hoa-Tho, menggunakan ganja dalam prosedur pembedahan yang di sesuaikan pada sifat analgesik nya. Di India kuno, sekitar tahun 600, penulis Sansekerta mencatat resep untuk ” pills of gaiety” atau “pil keriangan”, yaitu suatu kombinasi antara ganja dan gula. Pada tahun 1150, umat Islam telah menggunakan serat ganja dalam produksi kertas pertama di Eropa. Ini adalah penggunaan ganja sebagai sumber terbarukan yang tahan lama untuk serat kertas yang berlanjut hingga 750 tahun berikutnya.
Pada sekitar tahun 1300-an, pemerintah dan otoritas agama khawatir tentang efek psikoaktif pada masyarakat yang mengkonsumsi ramuan ganja tersebut dan berusaha menempatkan pembatasan keras terhadap penggunaannya. Emir Soudon Sheikhouni dari Joneima mengatakan bahwa ganja dilarang digunakan oleh orang miskin. Dia menghancurkan tanaman dan memerintahkan pelanggaran penggunaan ganja. Pada 1484, Paus Innosensius VIII melarang penggunaan Hashish, yaitu suatu bentuk concentrated dari ganja. Budidaya Cannabis terus berlanjut karena nilai ekonomisnya yang tinggi. Sedikit lebih dari satu abad kemudian, Ratu Inggris Elizabeth I mengeluarkan dekrit yang memerintahkan agar pemilik tanah yang memegang enam puluh hektar ladang ganja atau lebih harus membayar denda.
Kegunaan Medis Tanaman Ganja
Tanaman ganja secara keseluruhan, termasuk kuncup, daun, biji, dan akar, semuanya telah digunakan sebagai ramuan obat sepanjang sejarah. Meskipun batasan hukum yang tegas dan hukuman pidana berat untuk penggunaan terlarang, ganja semakin banyak digunakan di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, baik untuk sifat-sifatnya mengubah suasana hati dan penerapannya sebagai obat-obatan yang telah terbukti. Diskusi mengenai manfaat ganja dari segi keamanan dan efektivitas sangat bermuatan politis.
Marijuana telah terbukti sebagai obat analgesik, anti muntah, anti-inflamasi, penenang, anticonvulsive, dan tindakan pencahar. Studi klinis telah menunjukkan efektivitas ganja dalam mengurangi mual dan muntah setelah kemoterapi untuk pengobatan kanker. Tanaman ini juga telah terbukti mengurangi tekanan intra-okular di mata sebanyak 45%, dalam pengobatan glaukoma. Cannabis telah terbukti sebagai anticonvulsive, dan dapat membantu dalam merawat penderita epilepsi. Penelitian lain telah mendokumentasikan sebuah in-vitro efek penghambat tumor THC. Marijuana juga dapat meningkatkan nafsu makan dan mengurangi rasa mual dan telah digunakan pada pasien AIDS untuk mencegah penurunan berat badan serta efek lain yang mungkin timbul dari penyakit ini. Dalam sebuah studi penelitian beberapa kandungan kimia dari ganja menampilkan aksi antimikroba dan efek antibakteri. Komponen CBC dan d-9-tetrahydrocannabinol telah terbukti dapat menghancurkan dan menghambat pertumbuhan bakteri streptokokus dan staphylococci.
Ganja mengandung senyawa kimia yang dikenal sebagai canabinoid. Jenis canabinoid yang berbeda-beda memiliki efek yang berbeda pula pada tubuh setelah di konsumsi. Penelitian ilmiah mengindikasikan bahwa zat ini mempunyai nilai potensi terapi untuk menghilangkan rasa sakit, kontrol mual dan muntah-muntah, serta stimulasi nafsu makan. Zat aktif utama ganja yang teridentifikasi sampai saat ini adalah 9-tetrahydro-cannabinol, yang dikenal sebagai THC. Bahan kimia ini kemungkinan mengandung sebanyak 12% dari bahan kimia aktif dalam ramuan, dan memberikan pengaruh sebanyak 7-10% dari akibat yang di timbulkan seperti rasa gembira, atau “high” yang dialami saat mengkonsumsi ramuan ganja. Kualitas ramuan “euforia” ini tergantung pada saldo bahan aktif lain dan kesegaran bahan ramuan. THC ter-degradasi ke komponen yang dikenal sebagai cannabinol, atau CBN. Kimia aktif ini relatif tidak menonjol dalam ganja yang telah disimpan terlalu lama sebelum digunakan. Komponen kimia lain, cannabidiol, atau dikenal sebagai CBD, memiliki efek sedatif dan analgesik ringan, dan memberikan kontribusi ke somatic heaviness yang kadang-kadang dialami oleh pengguna ganja.
Pelarangan/prohibition
Sebelum adanya larangan, ganja direkomendasikan untuk pengobatan gonore, angina pektoris (konstriksi nyeri di dada karena darah tidak cukup untuk jantung), dan cocok untuk mengatasi tersedak. Ganja juga dapat digunakan untuk mengatasi insomnia, neuralgia, reumatik, gangguan pencernaan, kolera, tetanus, epilepsi, keracunan strychnine, bronkitis, batuk rejan, dan asma. Kegunaan lain adalah sebagai phytotherapeutic (nabati terapeutik) termasuk pengobatan borok, kanker, paru-paru, migrain, penyakit Lou Gehrig, infeksi HIV, dan multiple sclerosis.
Kebijakan pemerintah federal Amerika Serikat melarang dokter menggunakan resep ganja, bahkan untuk pasien sakit serius karena alasan efek samping yang mungkin diakibatkan dari efek adiktif cannabis yang berbahaya. Jaksa Agung AS Janet Reno memperingatkan bahwa para dokter di setiap negara yang memberikan resep ganja pada pasiennya akan kehilangan hak untuk menulis resep, kecuali dari Medicare dan Medicaid dan bahkan dituntut sebagai kejahatan federal, menurut sebuah editorial 1997 dalam Jurnal Kedokteran New England. (cpt)
Minggu, 26 Juni 2011
Biografi Singkat Tokoh Nasional ( Sultan Hamid II )
Sultan Hamid II yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Juli 1913 – meninggal di Jakarta, 30 Maret 1978 pada umur 64 tahun) adalah Perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab-Indonesia. Ia beristrikan seorang perempuan Belanda, yang memberikannya dua anak yang sekarang tinggal di Negeri Belanda.
Syarif Abdul Hamid menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.
Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H. Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah, Pontianak. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan berkas dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.
Label:
TOKOH NASIONAL
Biografi Singkat Tokoh Nasional (Bung Hatta)
Mohammad Hatta atau biasa dipanggil "Bung Hatta" lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.
Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta.
Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta.
Label:
TOKOH NASIONAL
Biografi Singkat Tokoh Nasional Sultan Syahrir
Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumbar, 5 Maret 1909. Ia dikaruniai dua orang anak, yakni Kriya Arsyah dan Siti Rabyah Parvati, dari pernikahannya dengan Siti Wahyunah, pada 1951. Sutan Sjahrir pernah menjabat Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) merangkap Ketua Badan Pekerja KNIP pada 16 Oktober-28 November 1945. Sjahrir merupakan Perdana Menteri pertama RI yang dijabatnya hingga tiga kali saat memimpin kabinet parlementer pada 15 November 1945 sampai 27 Juni 1947. Pada 30 Juni 1947 hingga akhir Januari 1950, Sutan Sjahrir menjabat sebagai penasihat presiden. Ia juga pernah menjadi Duta Besar Keliling RI pada 1947. Sjahrir mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan. Pada 1926, ia selesai dari MULO dan masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung.
Di kalangan siswa sekolah menengah (AMS) Bandung, Sjahrir dikenal sebagai siswa yang sering menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas sosial, yang kemudian menjurus menjadi politis. Seperti dikutip dari laman wikipedia, pada 20 Februari 1927, Sjahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesie. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Syahrir kemudian melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden. Di sana, Syahrir mendalami sosialisme secara sungguh-sungguh dan berkutat dengan teori-teori sosialisme. Selain menceburkan diri dalam sosialisme, Syahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Mohammad Hatta.
Di awal 1930, pemerintah Hindia Belanda kian bengis terhadap organisasi pergerakan nasional, dengan aksi razia dan memenjarakan pemimpin pergerakan di tanah air, yang berbuntut pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh aktivis PNI sendiri. Sjahrir juga terjun dalam pergerakan buruh dan pada Mei 1933, didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia. Bersama Bung Hatta, pada Agustus 1932, Sjahrir memimpin PNI Baru sebagai sebagai organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Berdasarkan analisis pemerintahan kolonial Belanda, gerakan politik Hatta dan Sjahrir dalam PNI Baru justru lebih radikal ketimbang Soekarno dengan PNI-nya yang mengandalkan mobilisasi massa.
Hampir setahun dalam kawasan malaria di Papua itu, Hatta dan Sjahrir kemudian dipindahkan ke Banda Neira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun. Pada masa pendudukan Jepang, sementara Soekarno-Hatta menjalin "kerja sama" dengan Jepang, Sjahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis karena yakin Jepang tak mungkin memenangkan perang, sehingga kaum pergerakan mesti menyiapkan diri untuk merebut kemerdekaan di saat yang tepat. Perjuangan mereka membuahkan hasil dengan diproklamasikannya Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta. Pada November 1945, Syahrir didukung kalangan pemuda dan ditunjuk Soekarno menjadi formatur kabinet parlementer. Pada usia 36 tahun, mulailah lakon Sjahrir dalam panggung memperjuangkan kedaulatan Republik Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.
Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II sampai dengan Kabinet Sjahrir III (1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur diplomasi. Diplomasinya kemudian berbuah kemenangan sementara. Inggris sebagai komando tentara sekutu untuk wilayah Asia Tenggara mendesak Belanda untuk duduk berunding dengan pemerintah republik. Secara politik, hal ini berarti secara de facto sekutu mengakui eksistensi pemerintah RI. Jalan berliku diplomasi diperkeruh dengan gempuran aksi militer Belanda pada 21 Juli 1947. Aksi Belanda tersebut justru mengantarkan Indonesia ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah tidak lagi menjabat Perdana Menteri (Kabinet Sjahrir III), Sjahrir diutus menjadi perwakilan Indonesia di PBB. Berhadapan dengan para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir mengurai Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda, Van Kleffens. Dengan itu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional.
PBB pun turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang semata-mata urusan dalam negerinya. Kleffens dianggap gagal membawa kepentingan Belanda dalam sidang Dewan Keamanan PBB, suatu kekalahan seorang diplomat ulung yang berpengalaman di gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang baru saja lahir. Sjahrir pun dijuluki "The Smiling Diplomat". Sejak akhir Januari 1950, Sutan Sjahrir tidak lagi memegang suatu jabatan negara. Pada tahun 1955, Partai Sosialis Indonesia yang dipimpin Sjahrir gagal mengumpulkan suara dalam pemilihan umum pertama di Indonesia. Setelah kasus PRRI dan PSI tahun 1958, hubungan Sutan Sjahrir dengan Presiden Soekarno semakin memburuk sampai akhirnya PSI dibubarkan tahun 1960.
Bahkan, tahun 1962, Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili, hingga pada 1965 Sjahrir menderita penyakit "stroke". Setelah itu, Sjahrir diijinkan untuk berobat ke Zurich, Swiss, hingga meninggal dunia di sana pada tanggal 9 April 1966 pada usia 57 tahun. Sutan Sjahrir wafat dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Label:
TOKOH NASIONAL
Biografi Singkat Tokoh Nasional Prof. Dr. H. Abdul Mukti Ali
Prof. Dr. H. Abdul Mukti Ali (lahir di Cepu, 23 Agustus 1923) adalah mantan Menteri Agama Kabinet Pembangunan II periode 1973-1978. Sejak berumur delapan tahun, Mukti menjalani pendidikan Belanda di HIS. Ketika berumur 17 tahun, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Termas, Kediri, Jawa Timur. Mukti Ali kemudian melanjutkan studi ke India setelah perang dunia ke dua. Ia menyelesaikan pendidikan Islam di India dengan memperoleh gelar doktor sekitar tahun 1952. Setelah itu, ia melanjutkan kembali studinya ke McGill University, Montreal, Kanada mengambil gelarMA. Semasa hidupnya, Mukti Ali telah menulis beberapa buku seperti : Beberapa Persoalan Agama Dewasa ini, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, Muslim Bilali dan Muslim Muhajir di Amerika, Ijtihad dalam Pandangan Muhammad Abduh, Ahmad Dahlan, Muhammad Iqbal, Ta`limul Muta`alim versi Imam Zarkasyi, Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam, Asal Usul Agama, dan Alam Pikiran Islam Modern .
Abdul Mukti Ali meninggal dunia dalam usia 81 tahun pada tanggal 5 Mei 2004, sekitar pukul 17.30 di Rumah Sakit Umum Dr. Sardjito, Yogyakarta. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga di Desa Kadisoko, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman.
Label:
TOKOH NASIONAL
Biografi Singkat Presiden Soekarno Masa Bakti 1945 — 1966
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..
Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926. Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu. Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai “Pahlawan Proklamasi”.
Label:
TOKOH NASIONAL
Senin, 13 Juni 2011
Layang Rindu Untuk Ibu
Ibu…
Satu langkah terjangkah
Satu titik terjamah
Dan satu titik tertinggal tapak serupa sampah
Engkau tau Ibu…
Seperti itu kiranya Sang Penguasa semesta bertitah
Membagi-bagi semacam alur aliran air
Sekafir-kafir tak kan mampu berbuat mungkir
Jangkah manusia
Jangkah Kuda
Dan semua jangkah hingga jangkah seekor kura-kura
Telah tertitipi amanat yang sama
Dan demi masa
Seperti amanat Ibu kepadaku
Ketika jiwa telah memilih cita
Raga berusaha menggapai cita
Langkah demi langkah terjangkah
Titik demi titik terjamah
Dan sudut demi sudut pun tinggal tersisa tapak serupa sampah
Ibu…
Aku tau betapa beratnya menjadi sebuah titik
Titik yang hanya mewarisi tapak serupa sampah
Aku tau Ibu sangat berat menerima ini
Terasa tak adil katika masa telah merenggutku darimu
Tapi ibu…
Masa takkan pernah peduli
Sekalipun itu pada langkah lemah kura-kura
Seperti amanat Ibu kepadaku
Satu langkah terjangkah
Satu titik terjamah
Dan satu titik tertinggal tapak serupa sampah
Engkau tau Ibu…
Seperti itu kiranya Sang Penguasa semesta bertitah
Membagi-bagi semacam alur aliran air
Sekafir-kafir tak kan mampu berbuat mungkir
Jangkah manusia
Jangkah Kuda
Dan semua jangkah hingga jangkah seekor kura-kura
Telah tertitipi amanat yang sama
Dan demi masa
Seperti amanat Ibu kepadaku
Ibu…
Akan aku kejar angan itu demi masa
Menjauh dan semakin menjauh mewarisimu asa
Meski peluh juga rindu membelenggu jiwa
Akan tetap aku mengejar cita
Aku juga rindu Ibu
Seperti halnya Ibu merindukanku
Tapi belum saatnya aku berpulang pada Ibu
Satu langkah terjangkah
Satu titik terjamah
Dan satu titik tertinggal tapak serupa sampah
Engkau tau Ibu…
Seperti itu kiranya Sang Penguasa semesta bertitah
Membagi-bagi semacam alur aliran air
Sekafir-kafir tak kan mampu berbuat mungkir
Jangkah manusia
Jangkah Kuda
Dan semua jangkah hingga jangkah seekor kura-kura
Telah tertitipi amanat yang sama
Dan demi masa
Seperti amanat Ibu kepadaku
Ibu…
Dan ketika saatnya tiba
Aku akan kembali pada Ibu
Berpulang padamu menyusuri tapak-tapak yang tertinggal dengan segumpal rindu
Seperti amanat Ibu kepadaku
Layang Rindu Untuk Ibu
Karya, Arie Ardhana al Kepet bin Obrek
Kamis, 28 April 2011 04:00 WIB
Satu langkah terjangkah
Satu titik terjamah
Dan satu titik tertinggal tapak serupa sampah
Engkau tau Ibu…
Seperti itu kiranya Sang Penguasa semesta bertitah
Membagi-bagi semacam alur aliran air
Sekafir-kafir tak kan mampu berbuat mungkir
Jangkah manusia
Jangkah Kuda
Dan semua jangkah hingga jangkah seekor kura-kura
Telah tertitipi amanat yang sama
Dan demi masa
Seperti amanat Ibu kepadaku
Ketika jiwa telah memilih cita
Raga berusaha menggapai cita
Langkah demi langkah terjangkah
Titik demi titik terjamah
Dan sudut demi sudut pun tinggal tersisa tapak serupa sampah
Ibu…
Aku tau betapa beratnya menjadi sebuah titik
Titik yang hanya mewarisi tapak serupa sampah
Aku tau Ibu sangat berat menerima ini
Terasa tak adil katika masa telah merenggutku darimu
Tapi ibu…
Masa takkan pernah peduli
Sekalipun itu pada langkah lemah kura-kura
Seperti amanat Ibu kepadaku
Satu langkah terjangkah
Satu titik terjamah
Dan satu titik tertinggal tapak serupa sampah
Engkau tau Ibu…
Seperti itu kiranya Sang Penguasa semesta bertitah
Membagi-bagi semacam alur aliran air
Sekafir-kafir tak kan mampu berbuat mungkir
Jangkah manusia
Jangkah Kuda
Dan semua jangkah hingga jangkah seekor kura-kura
Telah tertitipi amanat yang sama
Dan demi masa
Seperti amanat Ibu kepadaku
Ibu…
Akan aku kejar angan itu demi masa
Menjauh dan semakin menjauh mewarisimu asa
Meski peluh juga rindu membelenggu jiwa
Akan tetap aku mengejar cita
Aku juga rindu Ibu
Seperti halnya Ibu merindukanku
Tapi belum saatnya aku berpulang pada Ibu
Satu langkah terjangkah
Satu titik terjamah
Dan satu titik tertinggal tapak serupa sampah
Engkau tau Ibu…
Seperti itu kiranya Sang Penguasa semesta bertitah
Membagi-bagi semacam alur aliran air
Sekafir-kafir tak kan mampu berbuat mungkir
Jangkah manusia
Jangkah Kuda
Dan semua jangkah hingga jangkah seekor kura-kura
Telah tertitipi amanat yang sama
Dan demi masa
Seperti amanat Ibu kepadaku
Ibu…
Dan ketika saatnya tiba
Aku akan kembali pada Ibu
Berpulang padamu menyusuri tapak-tapak yang tertinggal dengan segumpal rindu
Seperti amanat Ibu kepadaku
Layang Rindu Untuk Ibu
Karya, Arie Ardhana al Kepet bin Obrek
Kamis, 28 April 2011 04:00 WIB
Label:
PUISI
Surau Kecil di Sudut Hati
Duh Gusti...
Aku adalah segumpal darah dan tanah-Mu, yang Kau rangkai sedemikian rupa hingga membentuk suatu Wadah ......
Wadah yang rumit dan jlimet ini juga memiliki lekuk² yang begitu sarat dengan keindahan (setidaknya untukku sendiri).....
Wadah di mana Kau letakkan rohku kedalamnya....
Kau bungkus aku ke dalam Wadah yang serupa sepertiku........
Pembungkus yang penuh kasih sayang merawatku, membasuh setiap keluh kesahku, mengalirkan nalar dari kanal ketulusan.....
Dititah tertatih - tatih aku dibantunya belajar menapak lemah yang benar, beliau bilang "Menunduklah dan perhatikan langkahmu agar kau tidak tersandung", "Jangan kau dongkakkan kepalamu penuh keangkuhan begitu"....
Hingga kini pun beliau masih selalu menitahku.....
Pembungkus itu lalu aku panggil Ibu.....
Cukup lama aku terbungkus dalam Wadah itu (yang ku panggil Ibu) hingga tiba saatnya aku memaksa keluar dengan cara kasar merobek ujung pembungkus itu....
Ujung di mana awal dari kehidupanku.......
Lalu Kau hembuskan nafasku....
Dan akhirnya pun aku melihat dunia-Mu yang luar biasa indahnya, disambut oleh banyak Wadah² yang lain dengan penuh rasa riang lego melihat aku menangis (entah menangis karena bahagia atau sedih)....
Dan Kau beri aku otak yang penuh imajinasi dan mampu menggerakkan setiap jengkal tubuh ini....
Jauh di dalam tubuhku yang terbungkus daging ini lalu Kau isi dengan hati yang mampu membuatku merasakan tangis, tawa, cemas, gugup, bahagia, sedih, cinta, sayang, marah, iba, haru, takut, berani, kagum, dan banyak lagi....
Subhanallah, sungguh aku tak kuasa membayangkan betapa Besarnya Engkau yang mampu membentuk kerumitan² isi dari raga yang dikaruniakan kepadaku ini....
Sayangnya aku tak mampu mengendalikan Otak dan Hatiku untuk selalu bisa melaksanakan semua Perintah-Mu dan menjauhi semua larangan-Mu....
Duh Gusti.....
Kini Aku adalah segumpal Pembangsat kecil yang merindukan-Mu....
Hatiku hitam kelam kelabu, selalu kalah dan tak mampu menahan serangan lawan (hawa nafsu) yang berwujud setan atau (Setan) yang berwujud hawa nafsu.....
Mbuh aku ora ngerti....
Mataku tertutup, terasa seperti di dalam kegelapan dan tak mampu melihat jalan mana yang baik untuk kulalui.....
Benar² iblis telah memanipulasi keindahan yang ku amati....
Kenyataan pun telah aku anggap sebagai halusinasi....
Sungguh bejatnya aku hingga pencarian jati diri aku gunakan sebagai alibi....
Benar-benar pencarian jati diri yang "onani"(mekso)....
Apapun aku lakukan demi kesenangan....
Idealisme pun aku jadikan pedoman, meskipun bertentangan dengan pikiran pun tetap aku jalankan.....
Lalu jika terpojok, ambil jalan plin-plan.....
Otakku penuh rasa bimbang dan angkuh, hingga aku telah salah tentukan jalan hidupku....
Aku telah menghiraukan setiap rambu yang mencoba mengarahkanku.....
Kini aku tersesat, benar² tersesat dan tak tau jalan untuk kembali ke jalan-Mu....
Duh Gusti Pangeran.....
Dalam secuil hati kecilku, aku sangat merindukanmu....
Dalam kehitaman hatiku, kuinginkan setitik Surau Kecil.....
Surau di mana aku bisa selalu bisa mengingatmu.....
Tempat di mana aku akan bersandar menanti Kau memanggilku....
Oleh: Arie Ardhana
Aku adalah segumpal darah dan tanah-Mu, yang Kau rangkai sedemikian rupa hingga membentuk suatu Wadah ......
Wadah yang rumit dan jlimet ini juga memiliki lekuk² yang begitu sarat dengan keindahan (setidaknya untukku sendiri).....
Wadah di mana Kau letakkan rohku kedalamnya....
Kau bungkus aku ke dalam Wadah yang serupa sepertiku........
Pembungkus yang penuh kasih sayang merawatku, membasuh setiap keluh kesahku, mengalirkan nalar dari kanal ketulusan.....
Dititah tertatih - tatih aku dibantunya belajar menapak lemah yang benar, beliau bilang "Menunduklah dan perhatikan langkahmu agar kau tidak tersandung", "Jangan kau dongkakkan kepalamu penuh keangkuhan begitu"....
Hingga kini pun beliau masih selalu menitahku.....
Pembungkus itu lalu aku panggil Ibu.....
Cukup lama aku terbungkus dalam Wadah itu (yang ku panggil Ibu) hingga tiba saatnya aku memaksa keluar dengan cara kasar merobek ujung pembungkus itu....
Ujung di mana awal dari kehidupanku.......
Lalu Kau hembuskan nafasku....
Dan akhirnya pun aku melihat dunia-Mu yang luar biasa indahnya, disambut oleh banyak Wadah² yang lain dengan penuh rasa riang lego melihat aku menangis (entah menangis karena bahagia atau sedih)....
Dan Kau beri aku otak yang penuh imajinasi dan mampu menggerakkan setiap jengkal tubuh ini....
Jauh di dalam tubuhku yang terbungkus daging ini lalu Kau isi dengan hati yang mampu membuatku merasakan tangis, tawa, cemas, gugup, bahagia, sedih, cinta, sayang, marah, iba, haru, takut, berani, kagum, dan banyak lagi....
Subhanallah, sungguh aku tak kuasa membayangkan betapa Besarnya Engkau yang mampu membentuk kerumitan² isi dari raga yang dikaruniakan kepadaku ini....
Sayangnya aku tak mampu mengendalikan Otak dan Hatiku untuk selalu bisa melaksanakan semua Perintah-Mu dan menjauhi semua larangan-Mu....
Duh Gusti.....
Kini Aku adalah segumpal Pembangsat kecil yang merindukan-Mu....
Hatiku hitam kelam kelabu, selalu kalah dan tak mampu menahan serangan lawan (hawa nafsu) yang berwujud setan atau (Setan) yang berwujud hawa nafsu.....
Mbuh aku ora ngerti....
Mataku tertutup, terasa seperti di dalam kegelapan dan tak mampu melihat jalan mana yang baik untuk kulalui.....
Benar² iblis telah memanipulasi keindahan yang ku amati....
Kenyataan pun telah aku anggap sebagai halusinasi....
Sungguh bejatnya aku hingga pencarian jati diri aku gunakan sebagai alibi....
Benar-benar pencarian jati diri yang "onani"(mekso)....
Apapun aku lakukan demi kesenangan....
Idealisme pun aku jadikan pedoman, meskipun bertentangan dengan pikiran pun tetap aku jalankan.....
Lalu jika terpojok, ambil jalan plin-plan.....
Otakku penuh rasa bimbang dan angkuh, hingga aku telah salah tentukan jalan hidupku....
Aku telah menghiraukan setiap rambu yang mencoba mengarahkanku.....
Kini aku tersesat, benar² tersesat dan tak tau jalan untuk kembali ke jalan-Mu....
Duh Gusti Pangeran.....
Dalam secuil hati kecilku, aku sangat merindukanmu....
Dalam kehitaman hatiku, kuinginkan setitik Surau Kecil.....
Surau di mana aku bisa selalu bisa mengingatmu.....
Tempat di mana aku akan bersandar menanti Kau memanggilku....
Oleh: Arie Ardhana
Label:
PUISI
ANTARA NASIONALISME DAN TUNTUTAN PERGAULAN DALAM DUNIA GLOBAL
Mas mas mas, ojo dipleroki…
Mas mas mas, ojo dipoyoki…
Karepku njaluk diesemi…
Tingkah lakumu kudu ngerti coro…
Ojo ditinggal kapribaden katimuran…
Mengko gek keri ing jaman…
Mbok yo di eling…
Eling bab opo Mas..?
Iku Budoyo…
Pancene bener kandamu…
Penggalan lagu campur sari tersebut menggambarkan betapa rapuhnya sikap-sikap kita dalam menghadapi tatanan dunia yang semakin bebas tanpa batas tedeng aling-aling. Ketika rasa nasionalisme kita mulai terkikis oleh era informasi yang bebas ugal-ugalan keluar masuk negeri. Namun bagaimanapun juga kenyataan ini sangat sulit untuk kita lawan, apalagi di tengah realitas tatanan global saat ini. Tatanan global itu dapat disimak pada beragam gejala masalah yang ada, yaitu antara sosial dan etika, antara lambang-lambang sekularisme di dalam humanisme dan sikap-sikap fanatik dalam primordialisme yang membuka diri terhadap kekerasan, serta antara kebangsaan yang sempit dan universalisme yang tidak berkerangka. Rasanya semakin kita meneriakkan tentang pentingnya rasa Nasionalisme tersebut, malah semakin tertantanglah untuk melenceng dari sifat-sifat nasionalisme trersebut.
Memang pada dasarnya hati kita masih mempunyai segumpal cinta terhadap tanah air Indonesia ini, tapi disisi lain kita pun merasa ogah untuk mencintai bangsa kita sendiri. Kata-kata mujarab “Cinta tanah air” sudah selayaknya berubah menjadi “Cinta Negeri Asing” di tangan para pendusta.
Seharusnya nasionalis itu mengharumkan nama bangsa, nasionalis itu cinta tanah air, nasionalis itu menghargai dan memperjuangkan jasa para pahlawannya, harusnya nasionalis itu patuh dan tegas terhadap janji negaranya atas dirinya misalnya Sumpah Pemuda, dan harusnya nasionalis itu menjunjung tinggi budaya bangsanya. BUKAN SEBALIKNYA.
Namun sayangnya dalam dunia pergaulan (yang katanya sih tren saat ini), mengharuskan para umatnya untuk selalu mengikuti gaya-gaya asing. Semakin ketinggalan gaya yang terbaru, semakin dibilang ketinggalan zaman. Memang sungguh aneh ini ketika modernitas dijadikan sebagai tolok ukur tren pergaulan.
Ironisnya lagi, bukan hanya pemuda yang kehilangan rasa nasionalisme ini tapi juga para pemimpin bangsa ini sudah sangat rusak rasa nasionalisme mereka. Dan dampak yang lebih parah lagi, sebagai tokoh mereka adalah panutan bagi rakyatnya. Baru hitungan beberapa hari yang lalu dikabarkan bahwa jatuhnya pesawat Merpati juga karena keserakahan beliau-beliau wakil rakyat yang dengan bodohnya lebih suka memillih membeli pesawat buatan Cina dari pada buatan Anak Negeri sendiri. Ironis sekali, ketika Pemerintah gencar meneriakkan “Cintailah Produk Indonesia”, tapi pemerintah sendiri semakin cinta produk asing. Belum lagi yang lainnya seperti korupsi yang semakin terus terang dilakukan tanpa rasa perkewuh, dan rasanya semakin mereka dicap sebagai koruptor kelas kakap semakin bangga mereka. Penunggangan lembaga oleh partai politik yang mereka katakana demi bangsa Indonesia pun semakin terasa aneh. “PSSI untuk Indonesia” (katanya sih begitu), kalau memang untuk Indonesia kan seharusnya tidak dipolitisi bukan.
Memang pada dasarnya tidak dapat kita pungkiri bahwasanya sejarah kebudayaan Indonesia sesungguhnya banyak mengalami pengaruh dari ragam budaya-dudaya daerah dan juga budaya-budaya Negara asing. Sejarah menyakitkan tentang penjajahan Belanda selama 350 tahun menduduki Indonesia, lalu pada kekejaman bangsa Jepang yang menjajah bangsa kita dalam waktu yang relatif singkat tapi dirasa lebih kejam dari pada masa penjajahan Belanda memang sedikit banyak meninggalkan kebudayaan-kebudayaan mereka di negeri kita tercinta Indonesia ini. Belum lagi ditambah masuknya pengaruh-pengaruh kebudayaan yang dibawa oleh para penyiar agama yang antara lain Hindu yang dibawa oleh bangsa dari India, Buda dari Cina, Kristiani dari Portugis dan Islam dari Arab.
Tidak salah dan memang benar kenyataannya jika kita mengatakan kebudayaan Indonesia itu sesungguhnya adalah budaya “gado-gado” atau “campur aduk”. Namun jika kita mau menelaah lebih jauh lagi tentang kebudayaan manusia di negeri mana-pun, sesungguhnya tidak ada di dunia ini yang memiliki kebudayaan yang benar-benar asli. Saya berani taruhan potong kuku kalau saya salah, hehehe. Untung kita dilahirkan sebagai bangsa Indonesia yang memiliki “Bineka Tunggal Ika” yang telah mempersatukan keanekaragaman kita.
Tak akan pernah habis kemarahan kita jika mengingat-ingat dan terus mengorek masa lalu kita yang nyaris tidak ada kebahagiaan di sana. Lebih banyak kesengsaraan yang kita alami pada masa lalu kita. Bukan hanya menjatuhkan harkat dan martabat kita sebagai bangsa yang besar tapi juga mengoyak-ngoyak kepribadian kita dengan menyebarkan semua paradaban yang dibawa oleh mereka para penjajah. Tapi bukan di situ permasalahannya yang harus kita kaji. Lebih baik kita memikirkan akan dibawa kemana arah masa depan bangsa kita yang “besar” ini di mata dunia? Apakah akan kita bawa menuju tatanan ke-Eropa-eropaan ataukah ke-Amerika-amerikaan, atau ber-Inggris ria, atau mungkin nJepang, atau lebih baik benar-benar ber-Indonesia?
Globalisasi dalam semua aspek ini termasuk kebudayaan mungkin saja adalah penjajahan dengan cara baru. Bukan hal yang mustahil jika ternyata moral kita sebagai bangsa yang besar tengah diserang. “Gold, Gospel, dan Glory” sekiranya kita masih ingat visi para penjajah tersebut. Sebuah tatanan dunia yang baru sengaja mereka ciptakan agar semakin memudahkan mereka untuk mengeksploitasi Negara jajahan mereka.
Apa yang sebenarnya terjadi dalam fenomena sikap kita yang “acuh tak acuh” terhadap kebudayaan bangsa kita ini? Padahal kita telah mengerti sesungguhnya “Budaya menunjukkan Bangsa”. Bahwa seperti apa kebudayaan kita, itu menunjukkan seperti apa bangsa kita di mata dunia. Apakah kita merasa kecil di hadapan dunia? Kalau saya sendiri justru merasa sangat besar di hadapan dunia. Betapa tidak, kita memiliki keanekaragaman budaya yang tidak dimiliki oleh kebanyakan bangsa lain sampai-sampai banyak para budayawan manca Negara yang mberguru ke negeri kita hingga ada beberapa diantara mereka yeng membentuk semacam cagar budaya Indonesia di negerinya ketika pulang dari Indonesia.
Ironis memang ketika terjadi fenomena seperti saat ini, yaitu “Bangsa Asing Lebih mengerti tentang Tanah Air Kita Indonesia, dari pada kita sendiri” (Saya kutib dari Puisi Mega Ndenk).
Baiklah, sekarang marilah kita berhenti sejenak mengenang kepahitan sejarah kita dulu. Mulai sekarang mari kita melihat ke depan untuk lebih “BERANI menjadi INDONESIA” demi eksistensi kita di mata Dunia.
NB: Saya sendiri-pun sampai kesulitan mencari kata eksistensi dalam bahasa Indonesia.
Mas mas mas, ojo dipoyoki…
Karepku njaluk diesemi…
Tingkah lakumu kudu ngerti coro…
Ojo ditinggal kapribaden katimuran…
Mengko gek keri ing jaman…
Mbok yo di eling…
Eling bab opo Mas..?
Iku Budoyo…
Pancene bener kandamu…
Penggalan lagu campur sari tersebut menggambarkan betapa rapuhnya sikap-sikap kita dalam menghadapi tatanan dunia yang semakin bebas tanpa batas tedeng aling-aling. Ketika rasa nasionalisme kita mulai terkikis oleh era informasi yang bebas ugal-ugalan keluar masuk negeri. Namun bagaimanapun juga kenyataan ini sangat sulit untuk kita lawan, apalagi di tengah realitas tatanan global saat ini. Tatanan global itu dapat disimak pada beragam gejala masalah yang ada, yaitu antara sosial dan etika, antara lambang-lambang sekularisme di dalam humanisme dan sikap-sikap fanatik dalam primordialisme yang membuka diri terhadap kekerasan, serta antara kebangsaan yang sempit dan universalisme yang tidak berkerangka. Rasanya semakin kita meneriakkan tentang pentingnya rasa Nasionalisme tersebut, malah semakin tertantanglah untuk melenceng dari sifat-sifat nasionalisme trersebut.
Memang pada dasarnya hati kita masih mempunyai segumpal cinta terhadap tanah air Indonesia ini, tapi disisi lain kita pun merasa ogah untuk mencintai bangsa kita sendiri. Kata-kata mujarab “Cinta tanah air” sudah selayaknya berubah menjadi “Cinta Negeri Asing” di tangan para pendusta.
Seharusnya nasionalis itu mengharumkan nama bangsa, nasionalis itu cinta tanah air, nasionalis itu menghargai dan memperjuangkan jasa para pahlawannya, harusnya nasionalis itu patuh dan tegas terhadap janji negaranya atas dirinya misalnya Sumpah Pemuda, dan harusnya nasionalis itu menjunjung tinggi budaya bangsanya. BUKAN SEBALIKNYA.
Namun sayangnya dalam dunia pergaulan (yang katanya sih tren saat ini), mengharuskan para umatnya untuk selalu mengikuti gaya-gaya asing. Semakin ketinggalan gaya yang terbaru, semakin dibilang ketinggalan zaman. Memang sungguh aneh ini ketika modernitas dijadikan sebagai tolok ukur tren pergaulan.
Ironisnya lagi, bukan hanya pemuda yang kehilangan rasa nasionalisme ini tapi juga para pemimpin bangsa ini sudah sangat rusak rasa nasionalisme mereka. Dan dampak yang lebih parah lagi, sebagai tokoh mereka adalah panutan bagi rakyatnya. Baru hitungan beberapa hari yang lalu dikabarkan bahwa jatuhnya pesawat Merpati juga karena keserakahan beliau-beliau wakil rakyat yang dengan bodohnya lebih suka memillih membeli pesawat buatan Cina dari pada buatan Anak Negeri sendiri. Ironis sekali, ketika Pemerintah gencar meneriakkan “Cintailah Produk Indonesia”, tapi pemerintah sendiri semakin cinta produk asing. Belum lagi yang lainnya seperti korupsi yang semakin terus terang dilakukan tanpa rasa perkewuh, dan rasanya semakin mereka dicap sebagai koruptor kelas kakap semakin bangga mereka. Penunggangan lembaga oleh partai politik yang mereka katakana demi bangsa Indonesia pun semakin terasa aneh. “PSSI untuk Indonesia” (katanya sih begitu), kalau memang untuk Indonesia kan seharusnya tidak dipolitisi bukan.
Memang pada dasarnya tidak dapat kita pungkiri bahwasanya sejarah kebudayaan Indonesia sesungguhnya banyak mengalami pengaruh dari ragam budaya-dudaya daerah dan juga budaya-budaya Negara asing. Sejarah menyakitkan tentang penjajahan Belanda selama 350 tahun menduduki Indonesia, lalu pada kekejaman bangsa Jepang yang menjajah bangsa kita dalam waktu yang relatif singkat tapi dirasa lebih kejam dari pada masa penjajahan Belanda memang sedikit banyak meninggalkan kebudayaan-kebudayaan mereka di negeri kita tercinta Indonesia ini. Belum lagi ditambah masuknya pengaruh-pengaruh kebudayaan yang dibawa oleh para penyiar agama yang antara lain Hindu yang dibawa oleh bangsa dari India, Buda dari Cina, Kristiani dari Portugis dan Islam dari Arab.
Tidak salah dan memang benar kenyataannya jika kita mengatakan kebudayaan Indonesia itu sesungguhnya adalah budaya “gado-gado” atau “campur aduk”. Namun jika kita mau menelaah lebih jauh lagi tentang kebudayaan manusia di negeri mana-pun, sesungguhnya tidak ada di dunia ini yang memiliki kebudayaan yang benar-benar asli. Saya berani taruhan potong kuku kalau saya salah, hehehe. Untung kita dilahirkan sebagai bangsa Indonesia yang memiliki “Bineka Tunggal Ika” yang telah mempersatukan keanekaragaman kita.
Tak akan pernah habis kemarahan kita jika mengingat-ingat dan terus mengorek masa lalu kita yang nyaris tidak ada kebahagiaan di sana. Lebih banyak kesengsaraan yang kita alami pada masa lalu kita. Bukan hanya menjatuhkan harkat dan martabat kita sebagai bangsa yang besar tapi juga mengoyak-ngoyak kepribadian kita dengan menyebarkan semua paradaban yang dibawa oleh mereka para penjajah. Tapi bukan di situ permasalahannya yang harus kita kaji. Lebih baik kita memikirkan akan dibawa kemana arah masa depan bangsa kita yang “besar” ini di mata dunia? Apakah akan kita bawa menuju tatanan ke-Eropa-eropaan ataukah ke-Amerika-amerikaan, atau ber-Inggris ria, atau mungkin nJepang, atau lebih baik benar-benar ber-Indonesia?
Globalisasi dalam semua aspek ini termasuk kebudayaan mungkin saja adalah penjajahan dengan cara baru. Bukan hal yang mustahil jika ternyata moral kita sebagai bangsa yang besar tengah diserang. “Gold, Gospel, dan Glory” sekiranya kita masih ingat visi para penjajah tersebut. Sebuah tatanan dunia yang baru sengaja mereka ciptakan agar semakin memudahkan mereka untuk mengeksploitasi Negara jajahan mereka.
Apa yang sebenarnya terjadi dalam fenomena sikap kita yang “acuh tak acuh” terhadap kebudayaan bangsa kita ini? Padahal kita telah mengerti sesungguhnya “Budaya menunjukkan Bangsa”. Bahwa seperti apa kebudayaan kita, itu menunjukkan seperti apa bangsa kita di mata dunia. Apakah kita merasa kecil di hadapan dunia? Kalau saya sendiri justru merasa sangat besar di hadapan dunia. Betapa tidak, kita memiliki keanekaragaman budaya yang tidak dimiliki oleh kebanyakan bangsa lain sampai-sampai banyak para budayawan manca Negara yang mberguru ke negeri kita hingga ada beberapa diantara mereka yeng membentuk semacam cagar budaya Indonesia di negerinya ketika pulang dari Indonesia.
Ironis memang ketika terjadi fenomena seperti saat ini, yaitu “Bangsa Asing Lebih mengerti tentang Tanah Air Kita Indonesia, dari pada kita sendiri” (Saya kutib dari Puisi Mega Ndenk).
Baiklah, sekarang marilah kita berhenti sejenak mengenang kepahitan sejarah kita dulu. Mulai sekarang mari kita melihat ke depan untuk lebih “BERANI menjadi INDONESIA” demi eksistensi kita di mata Dunia.
NB: Saya sendiri-pun sampai kesulitan mencari kata eksistensi dalam bahasa Indonesia.
Label:
ESAI
Minggu, 01 Mei 2011
ASAL MULA DAN ARTI KATA "JANCOK"
Asal Mula dan Arti kata "Jancok"
Bagi kalian yang orang jawa timur, pasti sudah tak asing lagi dengan kata jancok, kata ini sangat terkenal di jawa timur, Bahkan orang-orang di jawa tengah dan jawa barat pun sering mengucapkan kata ini. Lantas apa sebenarnya arti kata Jancok dan bagaimana asal mulanya bisa terbentuk kata ini.
Jancok atau dancok adalah sebuah kata khas Jawa Timur yang telah banyak tersebar hingga meluas ke seantero Indonesia bahkan sudah mendunia. Warga Jawa Timur seperti Surabaya, Malang dll turut andil dalam penyebaran kata ini.
Jancok berasal dari kata 'encuk' yang memiliki padanan kata bersetubuh atau fuck dalam bahasa Inggris. Berasal dari frase 'di-encuk' menjadi 'diancok' lalu 'dancok' hingga akhirnya menjadi kata 'jancok'.
Ada banyak varian kata jancok, semisal jancuk, dancuk, dancok, damput, dampot, diancuk, diamput, diampot, diancok, mbokne ancuk (=motherfucker), jangkrik, jambu, jancik, hancurit, hancik, hancuk, hancok, dll. Kata jangkrik, jambu adalah beberapa contoh bentuk kata jancok yang diplesetkan agar terasa lebih halus dari kata jancok.
Makna kata Jancok sendiri memiliki banyak versi. Sedangkan menurut versi penulis, Makna asli kata tersebut sesuai dengan asal katanya yakni 'encuk' lebih mengarah ke kata kotor bila kita melihatnya secara umum. Normalnya, kata tersebut dipakai untuk menjadi kata umpatan pada saat emosi meledak, marah atau untuk membenci dan mengumpat seseorang. Namun, sejalan dengan perkembangan pemakaian kata tersebut, makna kata jancok dan kawan-kawannya meluas hingga menjadi kata simbol keakraban dan persahabatan khas (sebagian) anak muda Jawa Timur-an. Baca Selanjutnya!
Bagi kalian yang orang jawa timur, pasti sudah tak asing lagi dengan kata jancok, kata ini sangat terkenal di jawa timur, Bahkan orang-orang di jawa tengah dan jawa barat pun sering mengucapkan kata ini. Lantas apa sebenarnya arti kata Jancok dan bagaimana asal mulanya bisa terbentuk kata ini.
Jancok atau dancok adalah sebuah kata khas Jawa Timur yang telah banyak tersebar hingga meluas ke seantero Indonesia bahkan sudah mendunia. Warga Jawa Timur seperti Surabaya, Malang dll turut andil dalam penyebaran kata ini.
Jancok berasal dari kata 'encuk' yang memiliki padanan kata bersetubuh atau fuck dalam bahasa Inggris. Berasal dari frase 'di-encuk' menjadi 'diancok' lalu 'dancok' hingga akhirnya menjadi kata 'jancok'.
Ada banyak varian kata jancok, semisal jancuk, dancuk, dancok, damput, dampot, diancuk, diamput, diampot, diancok, mbokne ancuk (=motherfucker), jangkrik, jambu, jancik, hancurit, hancik, hancuk, hancok, dll. Kata jangkrik, jambu adalah beberapa contoh bentuk kata jancok yang diplesetkan agar terasa lebih halus dari kata jancok.
Makna kata Jancok sendiri memiliki banyak versi. Sedangkan menurut versi penulis, Makna asli kata tersebut sesuai dengan asal katanya yakni 'encuk' lebih mengarah ke kata kotor bila kita melihatnya secara umum. Normalnya, kata tersebut dipakai untuk menjadi kata umpatan pada saat emosi meledak, marah atau untuk membenci dan mengumpat seseorang. Namun, sejalan dengan perkembangan pemakaian kata tersebut, makna kata jancok dan kawan-kawannya meluas hingga menjadi kata simbol keakraban dan persahabatan khas (sebagian) anak muda Jawa Timur-an. Baca Selanjutnya!
Label:
ESAI
SENI DAN BUDAYA UNTUK BERANI MENJADI INDONESIA
“Sebuah Tantangan bagi Penganut Idealisme Semu”
Oleh: Arie Ardhana
SEBELUM MEMBACA, ADA BAIKNYA JIKA ANDA TIDAK MENILAINYA DARI SEGI SUBJEKTIF
SEBELUM MEMBACA, ADA BAIKNYA JIKA ANDA TIDAK MENILAINYA DARI SEGI SUBJEKTIF
(Jangan membenci dan Jangan Menyenangi, NETRALKAN DIRI ANDA TERLEBIH DAHULU).
MARI KITA BERDISKUSI. SILAHKAN BERARGUMEN MENURUT KEYAKINAN DAN PENGERTIAN ANDA.
SEBELUM ANDA MEMBANTAH TULISAN INI, ADA BAIKNYA JIKA ANDA MENBACANYA DARI AWAL HINGGA AKHIR DAN BENAR-BENAR MEMAHAMINYA.
MARI KITA MULAI…..
MARI KITA BERDISKUSI. SILAHKAN BERARGUMEN MENURUT KEYAKINAN DAN PENGERTIAN ANDA.
SEBELUM ANDA MEMBANTAH TULISAN INI, ADA BAIKNYA JIKA ANDA MENBACANYA DARI AWAL HINGGA AKHIR DAN BENAR-BENAR MEMAHAMINYA.
MARI KITA MULAI…..
BUDAYA. Menarik sekali ketika kita mendengar kata tersebut, kadang kata tersebut menggetarkan hati kita ketika diucapkan. Bahkan “Budaya” telah kita anggap sebagai sesuatu yang “Sakral” untuk selalu kita jaga, kita lindungi, dan kita lestarikan. Bahkan kita (mungkin) beribu-ribu kali mengucapkan kalimat “Kita sebagai Insan Seni, harus menjunjung tinggi dan selalu melestarikan Budaya”. Dan saya-pun sebagai salah satu anggota dari komunitas seni mengakuinya sering mengucapkan kalimat “Mujarab” tersebut.
Sangking seringnya mengucapkan kalimat “mujarab” tersebut, dalam hati saya muncul pertanyaan, “Apa itu “Budaya”(dalam tanda kutip), dan kenapa aku harus menjaga dan melestarikannya”? Lalu timbul lagi pertanyaan dalam diri saya “Kenapa saya sebagai insan seni yang tergabung dalam komunitas seni harus melestarikan Budaya, apakah ada hubungan yang khusus antara Budaya dan Seni itu sendiri”? Baca Selanjutnya
Label:
ESAI
Minggu, 09 Januari 2011
JANCOK IS NOT CRIME
Kata-kata adalah hasil dari karya manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan merupakan sebuah cermin dari peradaban. Kata-kata merupakan bagian dari bahasa yang menjadi alat komunikasi bagi manusia. Kita sebagai makhluk yang beradab hendaknya melestarikan budaya yang telah diwariskan kepada kita, dan meneruskan untuk meneruskan ke pada generasi penerus kita.
Kami terlahir bukan karena kerusakan moral, tetapi kami lahir karena kepedulian kamin atas warisan budaya yang harus dilestarikan sebelum dicuri oleh bangsa lain yang miskin budaya.
Kami percaya bahwa keindahan adalah sebuah sudut pandang. Bahwa penilaian akan suatu hal yang buruk belum tentu selamanya menjadi buruk jika kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Dukung kami untuk melestarikan kata-kata/ umpatan asli Indonesia sebelum di rampas negeri miskin budaya.
Gabung juga di Group Facebook kami.
Langganan:
Postingan (Atom)





